Laman

Jumat, 25 Februari 2011

TUGAS MULIA SEORANG IBU


Saat ini lagi hangat-hangatnya mengalir berita yang cukup menggemparkan bumi zamrud khatulistiwa, yaitu tentang penemuan bakteri enterobacter sakazakii yang terdapat dalam susu formula. Jika kita menilik kembali sebenarnya perkara ini telah ada sejak tahun 2003 M lalu walaupun booming-nya setelah tahun 2006 M kemudian. Sebagaimana tradisi perkara-perkara silih berganti dan tumpang tindih di bumi pertiwi ini, perkara penelitian fenomenal ini juga sempat tenggelam oleh mencuatnya kasus bank Century dan Gayus ke permukaan. Akhir-akhir ini setelah kedua kasus tadi adem ayem, maka kasus susu formula ini meroket kembali. Menurut penelitinya sendiri yaitu Dr Sri Estuningsih, salah satu Dosen Institut Pertanian Bogor mengaku bahwa dia tidak mengira penelitiannya terkait bakteri E Sakazakii dalam susu formula ini ternyata menjadi polemik. Awalnya, penelitian ini juga bukan bertujuan untuk mencari bakteri E sakazakii yang berbahaya bagi manusia tapi untuk menilai kualitas mikrobiologi yang ada pada makanan sekaligus mengetahui seberapa bagus produk makanan yang ada di Indonesia.

Namun, seiring perkembangan penelitiannya ditemukan bahwa banyak terdapat bakteri E sakazakii, terlebih lagi bakteri ini banyak ditemukan terdapat dalam susu formula. Padahal di luar negeri termasuk AS sudah jauh hari sejak 1990-an ramai membicarakan dampak dari bakteri ini karena dapat menyebabkan radang otak dan usus. Dari penelitian itu juga ditemukan bahwa bakteri ini dapat menjangkiti bayi pada kondisi tertentu seperti yang usianya belum cukup satu bulan, lahir prematur, berat badan rendah di bawah 2,5 kg, bayi yang sistem pertahanan tubuhnya lemah, dan bayi yang ibunya mengidap HIV.

Seiring dengan terungkapnya fakta akan bakteri E sakazakii dalam susu formula, pro kontra pun bergulir di masyarakat. Banyak pihak yang meminta agar pihak IPB membeberkan produk-produk susu apa saja yang telah tercemari dengan bakteri ini.

Diantaranya adalah keputusan Mahkamah Agung (MA) yang memerintahkan IPB harus mengungkapkan merek-merek produk yang menjadi sampel penelitiannya tersebut. Hal senada juga dari Komisi IX DPR RI yang terus mendesak agar IPB membuka merek-merek susu yang pada 2003-2006 tercemar bakteri Sakazakii. Karena, masalah susu formula sudah semakin meresahkan masyarakat dimana terkait hal tersebut setidaknya ada 2 perkara yaitu tuntutan masyarakat untuk segera mengumumkan merek susu dan masalah putusan MA yang belum direalisasikan pihak tergugat yaitu Menkes, BPOM dan IPB. Berbeda halnya dengan Ketua Umum Perhimpunan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI), Prof Dr dr Sam Soeharto Sp.MK meminta IPB tidak mengumumkan hasil penelitiannya tentang bakteri Enterobacter Sakazakii kepada masyarakat. Menurut Ketua Harian Senat Akademik Universitas (SAU) Unair Surabaya itu, hasil penelitian itu akan percuma dan bermasalah bila disampaikan kepada masyarakat umum yang tidak paham soal bakteri, sehingga pengumuman itu justru meresahkan masyarakat. Intinya adalah peneliti harus menjunjung tinggi etika penelitian. Selain itu, menurutnya bakteri ini tidak berbahaya karena dalam usus manusia pun sudah ada bakteri dan jika masyarakat ragu dengan susu formula maka cukup untuk mengaduknya dengan air bersuhu 700 C sehingga bakterinya akan mati.

Terlepas dari pro kontra di atas, kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa bagaimanapun bakteri E sakazakii memiliki dampak negatif untuk manusia khususnya bayi. Sementara bakteri ini ada dalam susu formula dimana kebanyakan bayi di Indonesia pada awal umur sudah melakukan kontak dengannya. Walaupun bakteri ini dapat mati pada suhu 700 C tapi hal ini seharusnya tidak dijadikan alasan untuk tidak membeberkan perusahaan-perusahaan terkait yang terlibat menggunakan bakteri ini. Karena pada dasarnya, hak masyarakat untuk mengkomsumsi produk makanan yang sehat dan aman.

Walau bagaimanapun, sebenarnya ini hanyalah salah satu masalah kecil yang melanda masayarakat. Pertanyaannya adalah Apakah ada faktor kesengajaan penggunaan bakteri ini ke dalam produk makanan yang sering dikomsumsi oleh calon generasi penerus bangsa ini? Jika iya, apa tujuannya? Jika tidak, apa manfaatnya? Sejauh ini, jika kita adalah umat yang intelek dan melek akan perkembangan zaman maka akan kita temukan bahwa sangat banyak usaha dari musuh-musuh Islam yang berusaha menghancurkan umat Islam khususnya wanita dan anak-anak sebagai generasi penerus. Kita dapat menyaksikan bagaimana wanita-wanita muslim saat ini yang dengan bangga memamerkan auratnya, para ibu yang sibuk berkarir dan meninggalkan perannya sebagai ummu wa rabbatul bait. Akhirnya yang berimbas akan kelalaian mengurus generasi penerus mereka, bayi-bayi mereka hanya diberi susu formula yang instan, dan anak-anak mereka tidak lagi dididik dan dibimbing oleh ibunya yang sibuk terlena akan jeratan maut kaum gender feminis. Hal ini sangat didukung oleh demokrasi yang sejatinya produk kesayangan dari ideology kufur Kapitalisme yang sekuler, penghancur umat muslim walau perlahan tapi pasti.

Padahal, dalam Islam yang cahayanya menerangi semesta alam dan seisinya sudah terdapat aturan-aturan yang jika itu diberlakukan oleh penduduk bumi akan membuat mereka hidup sejahtera. Sebagaimana tuntuntan Islam akan peran atau tugas mulia seorang wanita, seorang ibu. Dalam surat cinta-Nya telah ditegaskan bahwa seharusnya bayi-bayi mereka disusui dengan ASI hingga 2 tahun, bukannya diberi susu formula oleh ibu-ibu sekarang. Bahkan dianjurkan untuk mencari ibu susu-an jika si ibu tidak dapat memproduksi ASI sendiri. Mengapa? Karena di dalam ASI itulah terkandung segala nutrisi yang dibutuhkan oleh seorang bayi, bahkan bukan hanya nutrisi tapi juga imun/kekebalan tubuh paling baik pun terkandung di dalam ASI sehingga bayi-bayi pun tak harus lagi diimunisasi dimana program ini sendiri pun adalah konspirasi kaum Barat. Begitupun tugas utama seorang ibu sebagai ibu rumah tangga yang perannya sangat besar dalam melahirkan dan mendidik generasi penerus Islam yang kuat dan shalih.

Adapun terkait dengan produk makanan yang berbahaya bagi umat, seperti susu formula maka dalam Islam di sinilah peran Negara Islam yaitu Khilafah, Negara yang melindungi umat bukan Negara yang hanya memikirkan bagaimana devisa negara terus bertambah tanpa melihat bagaimana dampaknya terhadap umat. Wallahu a’lam. (3SB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar